Saya sudah lama nggak baca novel. Sejak punya anak kedua, paling mentok baca caption Instagram. Tahun ini saya coba mulai lagi, dan adik ipar saya nyodorin Hujan. Katanya, "Mbak, ini gampang, nggak bikin mikir berat." Dia benar separuh.
Ceritanya di masa depan, tahun 2040-an. Lail umur 13 tahun waktu gunung meletus dan gempa besar menghancurkan kota. Dia kehilangan ibunya hari itu, dan diselamatkan anak laki-laki bernama Esok. Mereka tumbuh bareng di pengungsian, lalu terpisah karena Esok diangkat anak oleh keluarga Wali Kota dan sekolah di tempat lain. Lail sendiri tinggal di panti sosial dan sahabatan sama Maryam, yang menurut saya tokoh paling menyenangkan di buku ini. Kocak, nekat, nggak ada takutnya.
Bingkainya unik. Lail datang ke semacam klinik karena mau menghapus ingatannya tentang hujan, tentang Esok. Jadi sepanjang buku kita tahu dia akan melupakan sesuatu, cuma belum tahu kenapa. Itu yang bikin saya terus baca, biarpun cuma dapat lima belas menit tiap nungguin si sulung les.
Soal perubahan iklim dan teknologinya, saya nggak terlalu peduli dan sebagian saya skip. Ada bagian yang rasanya kayak dengerin ceramah. Yang bikin betah ya hubungan Lail dan Esok, dan betapa seringnya mereka salah paham cuma karena nggak ngomong terus terang. Duh, gemas.
Endingnya... nggak mau spoiler. Saya cuma bilang saya sempat ngomel sendiri di mobil, suami nanya kenapa, terus saya malah cerita panjang lebar sampai dia ikut penasaran.
Buat yang baru mulai baca lagi kayak saya, buku ini pas. Bahasanya gampang, babnya pendek-pendek. Empat bintang, satu bintang saya tahan buat Esok yang kebanyakan diem.