Saya agak alergi sama buku self-help. Kebanyakan isinya motivasi yang habis dibaca bikin semangat dua hari, terus lupa. Filosofi Teras beda, mungkin karena penulisnya kelihatan nggak sedang jualan mimpi.
Henry Manampiring cerita di awal kalau dia sempat didiagnosis depresi, lalu ketemu Stoisisme dari buku-buku yang dia baca. Isinya ngenalin filsafat Yunani-Romawi ini dengan bahasa yang santai banget, contohnya macet, grup WhatsApp keluarga, atasan yang nyebelin, netizen. Nama-nama kayak Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius muncul terus, tapi nggak kerasa kayak baca buku kuliah.
Konsep yang paling nempel buat saya itu dikotomi kendali. Ada hal yang di bawah kendali kita (pikiran, sikap, tindakan) dan ada yang nggak (cuaca, omongan orang, jalanan macet). Kedengarannya sepele. Tapi waktu saya terjebak di Gatsu satu setengah jam dan mulai ngedumel dalam hati, saya kepikiran: macetnya bukan urusan saya, yang urusan saya itu mau habisin waktu ini buat apa. Akhirnya dengerin podcast. Masih kesel sih, tapi nggak separah biasanya.
Ada juga latihan membayangkan skenario terburuk, premeditatio malorum. Awalnya kedengaran pesimis, ternyata lumayan berguna sebelum presentasi ke klien.
Minusnya, setelah setengah buku mulai terasa berulang. Poinnya itu-itu lagi, contohnya aja yang beda. Ilustrasinya juga kadang agak cringe buat selera saya, tapi mungkin itu yang bikin buku ini laku ke pembaca yang lebih muda. Kalau kamu sudah pernah baca Meditations atau buku Stoik lain, isinya mungkin terlalu dasar.
Tapi sebagai pintu masuk, ini salah satu yang terbaik dalam bahasa Indonesia. Saya sudah beliin satu buat adik yang baru masuk kerja. Semoga dibaca, bukan cuma dipajang.