Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.
Kalimat pembuka yang sekali masuk kepala nggak mau keluar. Saya pertama kali baca Cantik Itu Luka waktu semester tiga, disuruh dosen buat bahan diskusi realisme magis. Tahun ini baca ulang karena penasaran apakah masih sekuat dulu. Masih.
Dewi Ayu itu perempuan Indo, pelacur paling terkenal di Halimunda, punya empat anak perempuan. Tiga yang pertama cantik luar biasa dan hidupnya nggak ada yang bisa dibilang bahagia. Yang keempat dia doakan supaya buruk rupa, lalu anak itu dia namai Cantik. Dari situ ceritanya melebar ke mana-mana: zaman Belanda, pendudukan Jepang, revolusi, sampai 65. Hampir satu abad sejarah Indonesia dijejalkan ke satu kota kecil fiktif.
Yang bikin saya suka, Eka nggak pernah minta kita kasihan. Kekerasannya diceritakan datar, kadang malah lucu, dan justru itu yang bikin ngeri. Tokoh-tokohnya juga nggak ada yang bener-bener baik. Shodancho, Kliwon, Maman Gendeng, semua punya sisi yang bikin pengin nampar mereka.
Tapi saya ngerti kenapa banyak teman saya berhenti di tengah. Kekerasan seksualnya banyak dan eksplisit. Di pembacaan kedua ini saya lebih sadar, dan kadang saya mikir apakah semuanya perlu sedetail itu. Belum nemu jawaban yang memuaskan. Makanya bintangnya empat, bukan lima.
Satu lagi, alurnya lompat-lompat. Bab satu di masa sekarang, bab berikutnya mundur puluhan tahun, terus maju lagi. Buat saya itu seru, kayak nyusun puzzle, tapi kalau kamu tipe pembaca yang suka alur lurus mungkin bakal capek.
Buat yang mau mulai baca Eka Kurniawan, saya biasanya nyaranin Lelaki Harimau dulu karena lebih pendek. Tapi kalau sudah siap, Cantik Itu Luka itu wajib. Nggak heran buku ini diterjemahkan ke puluhan bahasa.