Jujur awalnya saya baca Laut Bercerita karena FOMO. Buku ini seliweran terus di beranda, semua orang bilang bikin nangis, dan saya pikir ya sudahlah, paling lebay. Ternyata saya yang lebay. Bab-bab terakhir saya selesaikan di angkot pulang sekolah dan terpaksa pura-pura kelilipan.
Ceritanya soal Biru Laut, mahasiswa di Jogja tahun 90-an yang ikut kelompok diskusi. Mereka baca buku-buku terlarang diam-diam, bikin aksi, lalu satu per satu diculik. Separuh pertama diceritakan Laut sendiri, bolak-balik antara masa kuliah dan masa dia disekap. Separuh kedua pindah ke adiknya, Asmara Jati, yang bertahun-tahun kemudian masih harus hidup dengan pertanyaan: abang saya di mana?
Yang paling bikin sesak buat saya justru bukan penyiksaannya (walaupun itu juga berat, beberapa halaman saya lewati cepat-cepat). Yang paling berat itu bagian keluarganya. Bapak dan ibunya tetap menyiapkan makan malam hari Minggu, tetap menata piring untuk Laut, seolah-olah dia cuma telat pulang. Asmara capek, marah, tapi nggak bisa bilang apa-apa ke orang tuanya. Saya punya adik laki-laki, dan waktu baca bagian itu saya langsung WA dia padahal nggak ada perlunya.
Leila nulisnya pelan dan detail. Laut itu suka masak, dan banyak adegan penting terjadi di dapur atau di meja makan. Awalnya saya pikir kok banyak banget bahas masakan, belakangan baru paham kenapa. Makanan itu yang bikin mereka masih terasa hidup.
Kekurangannya ada sih. Kawan-kawan Laut banyak banget, di awal saya sempat bingung siapa Sunu, siapa Alex, siapa Kinan. Sempat bolak-balik halaman. Tapi lama-lama nempel sendiri.
Sebagai guru, saya kepikiran anak-anak sekarang tahunya 98 itu cuma dari buku paket, satu dua paragraf. Buku ini bukan buku sejarah, tapi setidaknya bikin kita ingat bahwa di balik 13 orang yang sampai sekarang belum kembali, ada ibu yang masih masak buat anaknya.
Kalau kamu belum baca, siapin tisu. Serius.